Pembawa “Hujan”

13 10 2009

Bismillah…

Beberapa waktu yang lalu di tengah tugas jaga malam, saya terlibat obrolan sepintas kilas tapi berbekas dengan teman saya. Malam itu agak lain dari hari-hari sebelumnya. Jika biasanya tim jaga jarang/tidak mendapat pasien baru, maka malam itu rekor pecah: tiga pasien baru sekaligus. Menyadari “kelainan” itu, teman saya sempat berkomentar:

“Wah, pasiennya banyak. Jangan-jangan ada pembawa “hujan” disini.”
“Huzz, gak boleh ngomong gitu”
“Iya, iya, bercanda kok.”

Saya percaya bahwa waktu itu teman saya hanya asal nyeplos, bercanda saja. Percaya gak percaya, keyakinan semacam ini telah mengakar, turun temurun lintas generasi. Mungkin kali pertama pendahulu kami mencetuskan pun hanya sebatas bercanda. Tapi lama-lama dirasa “benar”. Katakanlah waktu itu, ketika si A dan B jaga, banyak pasien masuk. Kali kedua si A dan C jaga banyak pasien masuk pula. Kali ketiga si A dan D jaga, pasien masuk banyak juga. lalu teman-teman A pun berkesimpulan, “tuh kan, kalau si A yang jaga, banyak pasien masuk, jadi capek kan”. Ah, ide ini terlihat sederhana, tapi sebenarnya tidak.

Ide tentang “pembawa hujan” mungkin awalnya hanya bercanda, tidak sengaja. Namun, lama-lama menjadi seperti kepercayaan yang mengakar yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Saya pernah membaca kisah tentang kaum Tsamud. Kaum yang merasa sial karena keberadaan Nabi Shaleh di antara mereka.

Mereka menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu”. Shaleh berkata: “Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji” (An Naml:47)

Adakah kita melihat kemiripan? Jika kita tarik benang merahnya, mungkin dapat dikatakan seperti ini: sama-sama merasa sial karena adanya makhluk tertentu. Bahasa kerennya tathayyur, berasal dari kata thiyarah.

“Thiyarah adalah syirik. Thiyarah adalah syirik. Thiyarah adalah syirik. Dan tiadalah salah seorang dari kita kecuali (sungguh telah terjadi dalam hatinya sesuatu dari itu), akan tetapi Allah telah menghilangkannya dengan tawakkal (kepada-Nya).” (HR. Abu Dawud no. 3910. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menshahihkannya)

Nah, lho. Thiyarah adalah syirik. Thiyarah itu sirik. Thiyarah itu menyekutukan Allah. Jelas-jelas tersebut dalam hadits. Rasul kita yang bersabda, Rasul kita yang mengatakannya. Kesyirikan, entah itu besar atau kecil, tentu mengancam aqidah kita bukan?

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi) sebelummu jika kamu baerbuat syirik niscaya akan terhapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS.Az-Zumar :65 )

Hi…serem ah, mari selamatkan aqidah kita…

“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Al-A’raf: 131)

Wallahua’lam bish shawab


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: