Mutiara Hikmah Ketika Cinta Bertasbih

20 06 2009

Bismillah…

Hm, hm, ada yang udah nonton film Ketika Cinta Bertasbih? Saya sudah…😀. Di hari pertama film putar malah. Niat banget ya kalau dipikir-pikir? Haha.. FYI, ini film indonesia kedua yang saya tonton di bioskop (film pertama berjudul Petualangan Sherina yang diputar pas saya masih SD :P). Selain karena saya sangat jarang ke bioskop, saya juga agak malas nonton film Indonesia. Bukan maksud gak cinta sama produk negeri sendiri, tapi kan sayang duit juga kalo nonton tapi filmnya gak mendidik. Ya gak?

Setidaknya ada beberapa alasan mengapa saya nonton film ini. Pertama, jelas karena waktu itu lagi libur alias musim gak terlalu sibuk kegiatan akademis. Kedua, karena saya cukup suka sama novelnya (novel dengan judul yang sama dengan filmnya). Ketiga, karena tertarik sama trailernya. Keempat, karena ada adik kakak kelas saya di kampus yang ikut maen… (itu tuh yang jadi anak Lamongan.. nama aslinya juga Azzam, kuliahnya juga di Kairo, hehe..). Dan sederet alasan lain yang panjang kalau ditulis semua… Singkat cerita, akhirnya saya dan dua teman saya memutuskan untuk nonton di hari pertama penayangannya. Terlepas dari pro kontra yang memperdebatkan bagus tidaknya film ini, kami heboh sendiri pas nonton. Bahagianya masa muda kali ya.. ahaha. Nah, posting saya kali ini akan membagi sedikit mutiara hikmah yang saya dapat dari film tersebut. Semoga bermanfaat.

Sebelumnya mungkin saya sedikit cerita tentang apa film ini bertutur. Khairul Azzam mahasiswa Indonesia yang kuliah di Kairo, dikisahkan sebagai mahasiswa yang tak kunjung lulus setelah 9 tahun ia belajar di bangku kuliah. Sebenarnya ia cukup pintar, tapi kehidupan menuntutnya berjuang keras untuk membiayai hidupnya dan keluarganya di Indonesia setelah kematian ayahnya ketika Azzam masih di tahun pertama kuliahnya. Ia berjualan bakso dan tempe. Dan karena keahliannya dalam bidang kuliner itu, ia bertemu dengan Eliana, putri Duta Besar Indonesia untuk Mesir. Eliana gadis yang sangat pintar, cantik tapi liberal. Diam-diam mas Azzam ini naksir sama Eliana. Tapi sayang visi mereka begitu berbeda. Azzam orang yang teguh memegang agama sebagai prinsip hidupnya, sedangkan Eliana orang yang cenderung menyukai kebebasan dan “shalat nanti-nanti saja”. Atas saran dari sopir Eliana yang menyadari ketidakmungkinan hubungan mereka, Azzam disuruh untuk meng-khitbah seorang gadis yang “lebih layak” untuk dia, bernama Anna Althafunisa. Anna juga mahasiswa Indonesia, tapi ia kuliah di Kairo untuk mengambil S2. Setelah dikompor-kompori sopir Eliana, Azzam mendatangi wali Anna. Tapi ternyata, Anna sudah dikhitbah oleh orang lain, teman Azzam sendiri yang bernama Furqan. Furqan termasuk orang yang kaya. Ia berangkat kuliah ke Mesir bersama Azzam. Karena dukungan finansial yang memungkinkan, dalam hal akademis Furqan jauh lebih unggul dari Azzam. Hancurlah hati Azzam (doh). Sebenarnya saat itu Anna masih bingung mempertimbangkan lamaran Furqan ini. Nah, ketika akhirnya Anna meng-iya-kan lamaran Furqan, di saat yang sama Furqan baru saja didiagnosis terkena HIV/AIDS. Penyakit ini didapat Furqan oleh suatu musibah yang menimpanya. Film berakhir saat acara khitbah resmi Furqan kepada Anna berlangsung. Bersambung ke KCB 2…

Ada 3 bagian dari film ini yang ingin saya tulis…

Pertama
Ketika Eliana mau memberi hadiah kepada Azzam berupa, maaf, french-kiss. Eliana bilang itu hadiah, tapi Azzam bilang musibah. Apa alasan Azzam? Kurang lebih demikian. “Tiap orang punya prinspi dan kita harus meghargainya. Prinsip yang saya pegang adalah apa yang diajarkan dalam agama saya, IsIam. Islam mengajarkan kesucian. Makanya, dalam kitab-kitab Fiqih hal pertama yang dibahas adalah tentang thaharah: bersuci. Salah satu dari kesucian yang harus dijaga adalah kesucian hubungan antara pria dan wanita. Makanya, saya bilang french kiss itu musibah karena dengannya kesucian itu menjadi terlanggar.

Kedua
Perjuangan hidup seorang Azzam. Saya salut banget. Bayangin aja, tiap malam ketika teman-teman seasramanya terlelap, Azzam udah bangun untuk membuat tempe. Benar-benar sebuah perjuangan hidup. Saya jadi teringat sahabat Ali bin Abu Thalib pernah berkata “Bukanlah pemuda yang mengatakan inilah (prestasi) bapakku
Akan tetapi, pemuda adalah orang yang mengatakan inilah (pretasi) aku”. Dan saya rasa, dalam cerita ini tokoh Azzam sangat membuktikannya.

Ketiga
Bagian ketika Anna mengajukan syarat kepada Furqan yang ingin menikahinya. Syarat yang diajukan Anna (kurang lebih demikian): “Selama saya masih mampu menjadi istri Mas Furqan, saya tidak ingin dipoligami. Bukan tidak mengharamkan poligami, jadi tidak berarti saya mengharamkan apa yang boleh. Hal ini bisa dianalogikan seperti saya mengajukan syarat setelah menikah mas tidak boleh makan jengkol karena saya tidak suka bau jengkol. Ada kitab-kitab yang menjelaskan dan memperbolehkan tentang hal ini. Saya hanya ingin seperti Fatimah, putri Rasulullah, yang seumur hidupnya tidak pernah dimadu oleh suaminya, Ali.” Wah, wah, tampaknya bagian ini cukup bikin heboh ya. Hm, honestly, line ini emang menyerukan suara hati wanita, siapa pun dia. Tapi saya bertanya, ada gak ya pria yang dengan sadar dan keinginan hati berkata : “Saya ingin seperti Ali yang seumur hidupnya tidak pernah memadu istrinya, Fatimah.”🙂
Saya gak berkompeten untuk berbicara tentang fiqh-nya poligami bagaimana, kalau yang berniat cari tahu aja di kitab yang disebut di film itu. Eh, di novelnya juga ada cuplikan kitabnya deh kalo gak salah.

Ya, sekian cerita saya.. Semoga bermanfaat. Yang penasaran langsung nonton atau baca novelnya aja deh.

Wallahua’lam bish shawab


Actions

Information

31 responses

21 06 2009
hidayatus

Bismillah Saya ingin seperti Ali yang seumur hidupnya tidak pernah memadu istrinya, Fatimah.

21 06 2009
kerlip

🙂

21 06 2009
capungcapungkecil

eh cerita tentang husna nya mana? 😛

21 06 2009
kerlip

wah, ini postingan dah panjang… kalo ditambah ttg husna trus ttg tiara trus ttg cut mala jadi novel nanti pak… hehe…
tp saya jg salut sm husna… mupeng pengen jadi penulis ky gitu juga, hehe… ngimpi kali..
eh, gk ikut2 ky komentar pertama tuh?😛

21 06 2009
capungcapungkecil

Bismillah Saya ingin seperti Ali yang seumur hidupnya tidak pernah memadu istrinya, Fatimah.
🙂

21 06 2009
kerlip

wah, ngikut beneran to capung2kecil…
🙂

21 06 2009
wahyu kresna

yang bagus yang ini:

“Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar, namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri”

meski aku belum nonton, dan tidak berniat untuk menonton, tapi aku tau bagian mana yang aku rasa bagus:mrgreen:

21 06 2009
kerlip

lha itu kata2 di-trailernya to…
emang gk usah nonton kres, yg nonton agk kecewa kok.
emang lebih bagus trailernya daripada filmnya kok

ni kan dah tak bagi2 juga hikmahnya:mrgreen:

hm, jadi komentator ke3 yg ngikutin 2 komen di atasnya jg gk ya.. wkwk

21 06 2009
capungcapungkecil

wah ini kerlip kok nodong terus😛

tapi saya ga merasa tertodong sih, sebenarnya pada dasarnya saya kira laki-laki semua juga menginginkan untuk tidak poligami kok.. eh, tapi itu menurutku sih..

@ kresna: saya juga ga berniat untuk menonton, tapi saya pengen tahu cerita tentang husna nya, kerlip ayo ceritakan😀

21 06 2009
kerlip

ahaha… baru dua kali kok fin:mrgreen:
lagian katanya kamu gk merasa tertodong, brarti baru skali… itu jg kalo kresna merasa tertodong, hehe…

hm… mau ttg husnanya ya. insya Allah deh di postingan selanjutnya. ada pa ini? kenapa sangat penasaran dgn husna? hihi😛

21 06 2009
capungcapungkecil

sebenarnya, karena…

hm..
😳 duh..

karena..

karena di quiz facebook kok resultnya karakter saya mirip sama husna, syapa tahu nanti istri saya seperti husna, weits, tapi sebelum saya berdo’a seperti itu, makanya saya mau tahu lebih dulu tentang husna:mrgreen:

21 06 2009
kerlip

😳 (hurray bisa pake emot ini.. :P)
gitu toh critanya,,, wah mau ikut quiznya dong, invite dong fin kalo s4…
oke2 nanti tak critain ttg mbak husna deh:mrgreen:
mau titip salam skalian gk?😳😳😳

21 06 2009
capungcapungkecil

waduh waduh sekarang kok jadi gitu muka kamu😮

ya seperti itu, nitip salam ya kalo ketemu:mrgreen:

insyaALLAH ntar aku invite, please wait😀

21 06 2009
kerlip

😳😳😳😳😳😳😳
nanti tak salamin sama mbak husna deh kalo aku baca novelnya lagi ya:mrgreen:

udah sampe, makasih fin…🙂

22 06 2009
Darwinho

Wah filmnya klo menurutQ kurang seru e. Msh bagusan AAC. Lebih seru klo baca novelnya & sambil mengimajinasikan sendiri. Wkwkwkwkwk…..

22 06 2009
kerlip

setuju windo… wah2.. pake imajinasi segala ya? ngebayangin diri sendiri jadi syp?:mrgreen:

22 06 2009
uzzy.cantique

sama novelnya bagusan mana mb? pengen nonton tp tdk terlalu (nek o kayak AAC)… paling nunggu DVD atau CDnya release… nek gak nunggu diputer di tipi… xixixiiii… ;))

22 06 2009
kerlip

bagusan novelnya de’… mending gk usah nonton kok kalo udah baca novelnya…
sini2.. tak transfer memori aja, hihihi😉

22 06 2009
hidayatus

@ Capung..salam kenal ya..hehehe

@ capung dan kerlip :
eh kok ngikut gw si..heheh…tapi gw yang pertama, heheh..lah kebaikan kok gak boleh diikutin ma yang lain, hehehhe…PEace

22 06 2009
kerlip

whua… aku gk ngikut2 kok tus, serem amat kalo aku bilang
“Saya ingin seperti Ali yang seumur hidupnya tidak pernah memadu istrinya, Fatimah”

masih normal ini…😦

22 06 2009
Crescent Hikari

Bismillah,

Saya belum pernah baca novel ataupun nonton filmnya, tapi setidaknya mungkin ada sedikit yang mau saya koreksi di sini.
Setahu saya yang pernah saya baca, Ali memang tidak pernah memadu istrinya Fatimah selama Fatimah masih hidup, hal itu dikarenakan kekhususan dari putri-putri Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam yang memang tidak boleh dimadu. Tapi setelah Fatimah wafat, Ali kemudian menikah lagi dan berpoligami.

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS. An-Nisa`: 3)

Sa’id bin Jubair, “Ibnu Abbbas berkata kepadaku: “Apakah engkau telah menikah ?” Aku menjawab “ Belum”. Ibnu Abbas berkata, “Maka menikahlah, karena sebaik baik manusia pada umat ini adalah orang yang paling banyak istrinya”. [HR. Bukhari].

Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Termasuk sunnah jika seorang laki laki menikahi perawan setelah istri sebelumnya janda maka sang suami pun tinggal di rumah istri yang perawan ini selama tujuh hari maka sang suami tinggal dirumah istri yang janda selama tiga hari kemudian dia bagi”. [HR. Bukhari]

Poligami memang dianjurkan dalam islam, namun jika khawatir tidak mampu berbuat adil maka cukup seorang saja. Ketika seorang laki-laki ingin poligami, tentu itu harus dengan niat yang syar’i bukan hanya dengan nafsu belaka. Jika hanya dengan nafsu belaka tentu hal ini tidak diperbolehkan. Jika benar-benar merasa tidak mampu berbuat adil jika berpoligami maka beristri satu saja tidaklah mengapa, tapi tak ada salahnya jika diberi kemampuan oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk mampu berbuat adil dan memiliki istri lebih dari 1 hingga maksimum 4 seperti yang diperbolehkan oleh Allah dan juga dianjurkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Siapa yang tak mau mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya?? karena mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya sesuai dengan cara yang dituntunkan adalah salah satu bukti kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Afwan, jika ada kesalahan dalam apa yang saya tulis ini mohon dikoreksi, karena saya sadar masih kurangnya ilmu yang saya miliki…

Wallahu a’lam bish showab

23 06 2009
kerlip

maaf, tampaknya redaksional kata2nya memang tidak tepat
makasih atas koreksinya
mungkin lebih tepat begini, “Saya ingin seperti Ali yang tidak pernah memadu istri pertamanya, Fatimah”. Seperti halnya dengan Rasulullah yang tidak pernah memadu istri pertamanya, Khadijah.

Saat menikah dengan Fatimah sebenarnya Ali memang sempat akan berpoligami, tetapi Rasulullah tidak berkenan karena calon yang hendak dinikahi itu adalah putri Abu Jahal, putri musuh Allah.

Setahu saya, memang masih terdapat perdebatan apakah sunnah atau boleh karena secara tingkatan hukum itu berbeda. Yang jelas, adil merupakan syaratnya. Dan sikap adil itu juga bukan hal yang mudah.

Ini kutipan dari novel tersebut (berdasar kitab yang juga disebut sebagai referensi dalam novel tersebut)

”Mohon Mas Furqan melihat dan meneliti dengan seksama, dibagian
mana dan di teks mana saya mengharamkan poligami yang
dihalalkan oleh Al Quran. Tidak, sama sekali saya tidak
mengharamkan. Kalau Mas Furqan menikah dengan selain saya, Mas
mau menikahi langsung empat wanita juga saya tak ada masalah. Itu
hak Mas Furqan. Syarat itu sama dengan syarat misalnya saya minta
setelah menikah Mas Furqan tidak makan Jengkol, karena saya tidak
suka. Jengkol itu bau. Baunya saya tidak suka. Apa itu berarti saya
mengharamkan Jengkol? Saya meminta syarat untuk sesuatu yang
menurut saya bermanfaat bagi saya dan anak-anak saya. Dan dengan
syarat ini Mas Furqan sama sekali tidak dirugikan, sebab saya
mengatakan tidak boleh menikah dengan perempuan lain selama
saya hidup dan saya masih bisa menunaikan kewajiban saya sebagai
isteri. Kalau saya sakit menahun dan tidak bisa menunaikan
kewajiban saya ya silakan menikah. Syarat yang seperti ini
dibolehkan oleh ulama.” Anna beragumentasi membela syarat yang
diajukannya.

”Maaf saya belum pernah membaca ada ulama membolehkan syarat
seperti itu.” Tukas Furqan.

”Baiklah. Tunggu sebentar!” Kata Anna. Gadis itu masuk ke
kamarnya dan mengambil sebuah kitab. Pada halaman yang
ditandainya ia membukanya dan langsung menyodorkannya pada
Furqan,

”Ini juz 7 dari kitab Al Mughni karya Ibnu Qudamah, silakan baca di
halaman 93!”

Furqan menerima kitab itu lalu membaca pada bagian yang diberi
garis tipis dengan pensil oleh Anna. Saat membaca kening Furqan
berkerut. Ia lalu mendesah. Ia diam sesaat. Wajahnya agak bingung.

”Jelas sekali, para ulama sepakat bahwa suatu syarat yang menjadi
sebab akad nikah terjadi harus dipenuhi. Maka syarat saya tadi harus
dipenuhi kalau ingin akad nikah dengan saya terjadi. Selama syarat
itu tidak bertentangan dengan tujuan pernikahan dan tidak
menghilangkan maksud asli pernikahan. Saya tidak mensyaratkan
misalnya saya hanya boleh disentuh satu tahun sekali. Tidak! Syarat
ini bertentangan dengan maksud pernikahan. Dan ulama juga banyak
yang memilih pendapat bahwa perempuan boleh mengajukan syarat
sebelum akad nikah bahwa suaminya tidak akan menikahi
perempuan lain. Dan sang suami wajib memenuhi syarat itu selama
dia menerima syarat itu ketika akad nikah.
Imam Ibnu Qudamah ketika berbicara tentang syarat dalam nikah
sebagaimana termaktub dalam kitab Al Mughni yang Mas Furqan
pegang itu berkata: ’Yang wajib dipenuhi adalah syarat yang
manfaat dan faidahnya kembali kepada isteri. Misalnya sang suami
tidak akan mengeluarkannya dari rumahnya atau dari kampungnya,
tidak bepergian dengan membawanya atau tidak akan menikah
atasnya. Syarat seperti ini wajib ditepati oleh suami untuk isteri, jika
suami tidak menepati maka isteri berhak minta dihapuskan
nikahnya. Hal seperti ini diriwayatkan dari Umar bin Khattab ra,
dan Saad bin Abi Waqqash, Mu’awiyah, dan Amru bin Ash ra. Hal
ini juga difatwakan oleh Umar bin Abdul Aziz, Jabir bin Zaid,
Thawus, Auzai dan Ishaq.’

Dan ayat yang meminta kita untuk memenuhi janji adalah Al Maidah
ayat 1, Allah berfirman, ’Hai orang-orang yang beriman penuhilah
janji-janji itu Dan dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan
Muslim, Rasulullah saw. bersabda, ’Sesungguhnya syarat yang
paling berhak untuk kalian penuhi adalah syarat yang membuat
suatu farji jadi halal untuk kalian!’

Saya hanya ingin seperti Fatimah yang selama hidupnya berumah
tangga dengan Ali bin Abi Thalib tidak dimadu oleh Ali. Dan saya
ingin seperti Khadijah yang selama hidupnya berumah tangga dengan
Rasulullah juga tidak dimadu. Sungguh saya sama sekali tidak
mengharamkan poligami. Tapi inilah syarat yang saya ajukan. Jika
diterima ya akad nikah bisa dirancang untuk dilaksanakan. Jika tidak,
ya tidak apa-apa. Silakan Mas Furqan mencari perempuan lain yang
mungkin tidak akan mengajukan syarat apa-apa!” Papar Anna
panjang lebar .

seperti yang saya tulis, saya tidak berkompeten untuk membahas fiqh-nya.

23 06 2009
Nisa

subhanallah.. cerita yang bagus ya mbak😀

nisa blum nonton, sama kaya embak.. jarang bgt ke bioskop😛

hehe,,

salam kenal mbak kerliip😉

23 06 2009
kerlip

hehe… habis bioskop “gitu” sih… jadi males deh… hehe😛

salam kenal juga nisa…😀

23 06 2009
noerma123

khadijah memang tak dimadu oleh Rasul…

dan RAsulullah pun tak suka bila Ali me-madu Fatimah

tapi adakah kita semulia kedua wanita itu… T.T

23 06 2009
kerlip

pertanyaan retoris itu noe… T.T

ummul mu’minin aisyah tetap mulia dengan segala kelebihannya,
skalipun ia dimadu…

23 06 2009
hidayatus

hmmm…maqom nya udah tinggi tu yang di atas..hehhe..

Awak si…masih tetep di hutan sekarang…jauh dari peradaban

26 06 2009
Jawad Satuju

Assalamu’alaikum,
Salam kenal mas,
Saya juga sangat menyukai novel KCB disamping novel2 Kang Abik lainnya, seperti AAC dll. Saya jg nonton filmnya pas tayang perdana. Klo kita sudah baca novelnya, rasanya memang ada yang hilang ya…ternyata memang “suara hati/jiwa” para pelakonnya dlm novel, tidak akan terbaca di film. Bagaimanapun, saya menyukai & appreciate film2 lokal bernafaskan agama/Islami.
Silahkan mampir ke Saung saya di http://hsudiana.wordpress.com/
Wassalam,

26 06 2009
Jawad Satuju

Sampurasun, waduh maaf terpaksa balik lagi ketuk pintu nih. Maaf, setelah baca About Me, kayaknya kalau KERLIP MELATI itu nama seorang wanita ya pantasnya. Maaf ya Mbak, saya dah panggil Mas…hehehe.
Wslm,

26 06 2009
kerlip

wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh

hahaha… iya, gpp kok… tapi saya asli perempuan lho… salam kenal juga. btw, bolak balik ketuk pintu jg gpp kok:mrgreen:
ya, masing2 karya ada lebih dan kurangnya memang. tapi setidaknya melalui film2 itu ada hal/muatan2*brasa truk aja ya* bisa dicerdaskan ke masyarakat kita.

7 06 2010
Arie

ya mungkin dari smua film juga dapat di ambil makna/hikmahnya,,
trus dari film ini kita dapat memahami apa arti cinta yang sebenarnya….^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: