Beginilah Rasulullah Mengajarkan Kita…

20 06 2009

Bismillah…

Saya teringat akan sebuah masa yang pernah saya lewati di SMA ketika guru agama saya mewajibkan murid-muridnya untuk memiliki Buku Merah. Buku itu berisi 100 hadits tentang akhlak Rasulullah. Dengan membaca dan menghapal (setidaknya arti dari hadits-hadits tersebut), guru saya berkeinginan agar murid-muridnya dapat mencontoh akhlak Rasul.
Apa itu akhlak? kalau kata guru saya itu, akhlak adalah sesuatu yang spontan (kalimatnya tidak tepat seperti ini, hanya maknanya seperti ini). Kita tidak perlu berpikir untuk melakukannya karena akhlak itu sudah menjadi bagian dari diri kita. Misal, kalau kamu terjatuh atau tertimpa musibah lalu secara spontan kamu berucap “Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun”, maka itulah akhlakmu. Tapi kalau kamu terbiasa berucap kata-kata kasar seperti “a*j**g” atau makian-makian lain, maka itulah yang akan terucap dan itulah akhlakmu.
Lalu seperti apa seharusnya akhlak seorang muslim itu?

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)

Ya, akhlak seorang muslim itu seharusnya seperti yang diajarkan Rasulullah. Salah satunya adalah kelembutan hati beliau dalam mencintai dan berbuat kebaiakan kepada sesama manusia. Mungkin artikel berikut yang saya kutip dari salah satu penulis favorit saya di blog sebelah bisa menceritakan kepada kita tentang sejejak kisah akhlak Rasulullah…

Di Katarakmu Ada Cintaku

Mungkin syair “Cinta Itu Buta” harus diubah. Saya tak benar-benar paham mengapa cinta tak punya mata. Yang saya paham, setiap kali saya sodorkan perempuan untuk para lelaki, mereka lantas bertanya, “Cakep nggak?”

Mungkin lebih tepat jika syairnya diganti jadi: cinta itu katarak. Tak benar-benar gelap, hanya berkabut. Tak hilang sungguh-sungguh, hanya kabur sejenak. Semakin tua, ia semakin parah. Tapi, cinta kemudian tidak lagi dimaknai secara fisik. Setelah katarak, makna cinta jadi mendalam. Bukan lagi dengan memandang foto suaminya yang gagah, bukan pula memandang senyum istrinya yang memikat. Tapi, berubah jadi seberapa hangat tangan saling bergenggam, seberapa lembut tutur saling menyapa.

Pasien saya tempo hari di poliklinik membuktikan syair itu: cinta itu katarak.

Tangannya bergenggaman saat masuk ke pintu poli. Yang satu menuntun yang lain. Suaranya indah, lebih indah dari dialog sinetron tiap malam di televisi. Masing-masing usianya telah berangka lebih dari enam puluh. Jalannya membungkuk. Matanya mengaduh. Tapi, dari mulutnya masih terdengar sapa yang bersahutan, “Papa ditanya dokter tuh. Mata kanannya sudah operasi kan setahun lalu?”

Kepalanya mengangguk, tetapi istrinya merasa tak cukup. Isyaratnya dibaca jelas, lantas sang suami dengan deretan gigi yang telah menghilang bersuara juga. “Iya, kan bareng sama Mama.”

Saya hanya tertawa dalam hati. Tersenyum geli. Membayangkan betapa masa muda mereka adalah dunia penuh mawar dan melati. Saya tak menduga mereka berparas cantik dan rupawan. Saya hanya menduga mereka punya kejernihan hati untuk menerima satu sama lain. Untuk saling berteduh semangat saat yang satu luka.

Matanya yang katarak tak membuat cintanya hilang, namun justru maknanya semakin gemilang. Bukan parasnya yang membuat jatuh hati, tetapi betapa hatinya mampu menerima kekurangan diri. Manusia tak ada yang sempurna. Bukan masalah betapa hebatnya sang suami dan betapa mandirinya sang istri. Intinya justru betapa ego bisa diredam untuk bisa saling memahami.

Saya jadi ingat kisah Rasul yang menyuapi janda buta tetangganya yang seorang Yahudi. Hingga saat Sang Rasul wafat, Abu Bakar bertanya kepada Aisyah, “Apa yang belum aku lakukan dari semua kebiasaan Rasul?” Aisyah, putrinya sekaligus istri Rasul, menjawab: memberi makan si janda. Saat Abu Bakar datang dan menyuapinya, betapa si janda justru marah bukan kepalang.

“Kau pasti bukan orang yang biasa menyuapiku?”

“Aku yang menyuapimu setiap hari.”

“Bukan. Yang menyuapiku setiap hari tak pernah memberiku makanan keras. Dia melumatnya sampai lunak dan sampai aku bisa memakannya. Kau pasti bukan orang yang biasa.”

Abu Bakar terhenyak.Pertama, kepada amarah si janda. Kedua, dan lebih hebat, kepada Rasul yang begitu dalam mencintai orang lain –bahkan, seorang Yahudi yang selalu berkata buruk tentangnya. “Aku memang bukan orang yang biasa menyuapimu.” Ketika nama Rasul disebut, bergetarlah hati si janda dan ia sungguh menemukan arti cinta yang sesungguhnya. Cinta yang bermuara kepada Cinta yang tak pernah letih mencurahkan kasih sayang. Matanya memang buta, tetap cinta Rasul telah membua mata yang terdalam di hatinya. Setelah itu ia berganti status: menjadi muslimah yang taat kepada Allah dan Rasul.

Saya tak tahu benar apakah masih ada cinta yang sedemikian indah saat ini. Ketika tontonan anak-anak hingga ibu-ibu adalah kawin-cerai idola mereka. Ketika bacaan segala usia menjadi seragam, berbincang bagaimana satu orang menyatakan cinta lantas mengaku dengan gembira bahwa dirinya telah dianiaya suaminya.

Kalau saja pasien tak menumpuk di luar, saya mungkin akan bertanya dengan sungguh-sungguh kepada pasien itu, “Apa resepnya?”

Tapi, sudahlah. Saya cukup menatap langkah mereka yang masih saja saling bergenggam tangan. Saya cukup mendengar tutur mereka yang saling berbisik, bertanya: mau makan siang di mana. Dan saya cukup yakin bahwa setelah kataraknya dioperasi, cinta itu semakin membuncah. Tak peduli setelah itu mereka tersadar satu sama lain betapa sudah reotnya muka mereka, betapa sudah kendurnya kulit mereka. Yang mereka tahu: ada yang selalu mengusap air matanya saat hari-hari kemarin mereka tak dapat melihat dengan sempurna.

Saya membayangkan di diary mereka tertulis tinta penuh cinta: Di Katarakmu Ada Cintaku.

kamarkosong, juni 2009

Saya jadi teringat akan hadits pertama dalam buku merah tersebut

“Orang Mukmin yang paling sempurna imannya, ialah yang paling baik akhlaknya.”(H.R.Ahmad) “

Semoga dapat menginspirasi kita untuk menjaga akhlak kita dan senantiasa berlomba-lomba dalam kebajikan.. amiin.

wallahua’lam bish shawab

*di tengah rasa kangen pada penasehat spiritual saya: Pak Zar’an, semoga Allah melimpahkan rahmatNya untuk beliau


Actions

Information

13 responses

21 06 2009
capungcapungkecil

ini ngebahas akhlak apa cinta ya (thinking)

kok sepertinya ada unconsequence dalam pembahasannya, ato aku aja yang belum cukup bisa membaca bahasan yang tinggi2 kaya gini..

well, aku juga pernah mendapati satu keadaan seperti cerita di atas, saat itu aku naek kereta mau pulang kampung, wah ada kakek dan nenek yang begitu mesra-nya duduk tepat dihadapanku.. memang cinta itu indah🙂

21 06 2009
kerlip

sebenernya mau ttg akhlak sih… tp agak flight of ideas gitu jadi gitu deh keluarnya. yg mau dicuplik dari artikel di katarakmu ada cintaku tuh cuma yg di-italic aja, tp berhubung artikelnya bagus jadi ya dikutip semua, e… malah jadi gk nyambung ya?

wah3… hebat ya… pasti yg ngeliatin mupeng tuh😛
eh, saya juga pernah liat di atas kereta, kakek nenek yg lagi asik banget ngobrolin sandal ky apa yg mau dijadiin kado buat cucunya tercinta… hehe

21 06 2009
capungcapungkecil

hehe, sampe ngiler aku ngelihatnya:mrgreen:

tapi ga pa pa, dua2nya tersampaikan kok malah, tentang cinta dan akhlak :thumbs:

21 06 2009
kerlip

hahaha… moga besok bisa gitu juga deh sama partner hidupnya pak capung2kecil…

makasih… maap kalo bikin bingung bacanya…🙂

21 06 2009
capungcapungkecil

amin🙂

saya do’akan juga bu kerlip juga akan mengalaminya dengan pak kerlip tentunya:mrgreen:

21 06 2009
kerlip

makasih ifin… nama panggilanmu tak ganti yah:mrgreen:

21 06 2009
capungcapungkecil

silahkan.. asal masih nyambung.. jangan di ganti david ato john ato vicky , soalnya jadi aneh ntar😀

22 06 2009
Abdul Cholik

Nyambung kok critanya,memang hanya orang2 hebat yang mampu memahami artikel apikitu.Intinya kapan saja,dimana saja dan kepada saja kita harus menunjukkan akhlak yang baik seperti akhlaknya Rasulullah.Ketika kita jatuh cinta ya jatuh cintalah dengan akhlak yang baik.
Bravo artikelnya ngeTOP.
Salam dari Surabaya

22 06 2009
kerlip

terimakasih…

salam dari Jakarta:mrgreen:

23 06 2009
ziezah

ya…..langsung kepikiran waktu baca bagian atas….(bukune ki neng ndi ya gonku????aku pernah duwe to???) hahahahaha…..LUPA BANGET pernah punya buku itu…jadi pengen tau isine apa aja, soale dah lupa.

semakin ke bawah…ciah…….CINTA…….haha…….ya semoga berjodoh dengan sikap dan sifatku lah….

saya akhirnya sudah memutuskan dan sedikit menemukan gairah lagi… dan tujuan hidup dan kuliah saya…hore!!!depresi sedikit berkurang.

24 06 2009
kerlip

haha… ketoke mesti nduwe zi, lha kwe ujian py nek ra nduwe coba? yo met “berburu” bukune… isine macem2 to, dari bersiwak salam sampe hijab…🙂

amiin… ingat lagu seseorang menunggu jaman pagelaran kita gk zi? hehe…:mrgreen:

wah… alhamdulillah… i’m very happy 2 hear that… YMku gk mau konek2 je akhir2 ni… melewatkan cerita2mu deh… hoho… met ujian yah! smangat!!

26 06 2009
ziezah

ya ilah lip…eling lah…pernah kapan tak pajang di status nyanyiane kita…..(lumayanlah)

lip…..padahal aku pengen cerita banyak ne sama kamu(hags hags…)

26 06 2009
kerlip

hwehe,,, apik iku kata2ne zi… hoho…:mrgreen:
kapan ngumpul lengkap ky poto habis pagelaran itu lagi y…

haha… i’ll coming soon, halah… insya Allah Zi…😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: