Kita Memang Berbeda

1 06 2009

Bismillah…
Artikel berikut ditulis oleh Helvy Tiana Rosa (gak kenal sih, tapi seringkali tulisannya menginspirasi); versi asili bisa dilihat di halaman ini.

“Ayah bunda lucu deh,” kata anak kami Faiz, pada suatu hari yang gerimis.

Saya mengerutkan kening sambil tersenyum. “Lucu? Lucu apanya sayang?”

“Orangnya bertolak belakang! He he he….”

Saya tersentak sesaat. Faiz, anak kami yang belum berusia 10 tahun dan suka menulis puisi, “membaca” kami sedalam itu.

Saya manggut-manggut. “Hmmm, lalu apanya yang salah?”

Dia mengerling menggoda. “Tidak ada. Ayah Bunda pasangan yang unik!”

Saya dekatkan wajah saya pada Faiz dan menyentuh lembut hidungnya.

“Aku mencatat beberapa contoh. Bunda suka durian, ayah anti durian. Bunda periang, ayah pendiam. Bunda humoris, ayah sangat serius. Hmmm, apalagi ya? Ayah menganalisa, bunda sensitif. Ayah itu detail, bunda tidak. Ayah dan bunda memandang persoalan dengan cara berbeda. Menyelesaikan persoalan dengan berbeda pula!”

Saya bengong. (saya juga bengong mbak Helvy, anak kecil kok bisa tahu sedetail itu ya)

“Bunda romantis tapi ayah tidak. Kalau aku romantis!” katanya setengah berbisik, lalu tertawa.

Saya tambah bengong! Tahu apa anak itu tentang romantisme?

Faiz terus nyerocos. Ia pun bercerita, tentang percakapan di sekolah dengan teman-temannya. Anak-anak SD Kelas IV itu ternyata sudah berpikir, kelak kalau menikah harus mencari pasangan yang sifatnya sama! “Kalau tidak nanti bisa cerai!” (heh??)

What? Saya garuk-garuk kepala.

“Aku saja yang tidak begitu setuju, Bunda. Aku bilang pada teman-teman, justru karena ayah bunda berbeda, jadinya malah asyik lho!”

Saya geleng-geleng kepala lagi, sambil mengulum senyum. Ah, tahukah para orangtua mereka bahwa anak-anak mereka kadang tahu lebih banyak dari yang kita pikir?

Tak lama Faiz sudah asyik dengan bacaannya di kamar. Di ruang kerja saya, tiba-tiba wajah beberapa teman lama melintas.

A memilih bercerai karena setelah menikah 10 tahun dan punya 2 anak kemudian merasa ia dan suami sama sekali tak cocok!

B menjalani kehidupan rumah tangganya dengan perasaan hampa karena tak kunjung merasa cocok dengan suaminya, setelah menikah belasan tahun.

C selalu berkomunikasi dengan suaminya tentang berbagai hal, tapi terpaksa cekcok hampir setiap hari karena tak kunjung sampai pada sesuatu bernama kesamaan.

D tak lagi peduli pada indahnya jalan pernikahan dan sekadar menjaga keutuhan rumah tangga sampai akhir hayat.

Di antara mereka ada yang seperti saya, menikah karena dijodohkan sahabat atau ustadz. Ada pula yang menikah setelah melalui pacaran lebih dahulu bertahun-tahun. Dan atas nama “ketidakcocokan” itulah yang terjadi.

Saya akui, pengamatan Faiz jeli. Saya dan Mas Tomi memang sangat berbeda. Sebelas tahun kami bersama dan berupaya mencari titik temu. Tak selalu berhasil. “We are the odd couple!” kelakar kami. Tapi alhamdulillah, di tengah-tengah segala perbedaan itu, kami berusaha untuk tak berhenti berkomunikasi. Saya mencoba memilih waktu yang tepat, yang menyenangkan untuk bicara berdua. Begitu juga Mas. Kami membicarakan perbedaan kami di saat dan di tempat yang nyaman dan menyenangkan.

Kadang tak semua perlu dibicarakan. Mas menunjukkan dengan sikap apa yang ia inginkan dari saya. Kadang saat saya lelah, tanpa harus terucap kata “saya capek,” Mas memijat pundak dan punggung saya. Saya tahu, saya menangkap, Mas akan senang kalau saya perlakukan demikian pula. Saya selalu memberi kejutan di saat milad, ulang tahun pernikahan, di saat ia meraih kesuksesan atau kapan saja saya mau. Mas menyadari, itu artinya saya pun ingin diperhatikan demikian. Ia mencoba, meski sebelumnya tak ada tradisi itu di keluarga Mas. Saya membuatkannya puisi saat Mas kerap memberi saya data statistik keuangan kami. Mas tahu, saya ingin sesekali diberi puisi sederhana tentang cinta. Saya pun menyadari, Mas ingin saya bisa mencatat semua pemasukan dan pengeluaran rumah tangga dengan rapi. Mas suka makanan tertentu. Dan meski tak suka, saya coba memasaknya. Saya membelikan Mas pakaian yang sedikit modis. Mas nyengir, tapi ia coba memakainya.

Berupaya untuk memahami dan mengecilkan perbedaan menjadi indah, ketika itu dilakukan dengan senyum dan ketulusan, bukan karena tuntutan atau paksaan terhadap pasangan. Dan kalau dengan berubah kita lantas menjadi lebih baik, kalau berubah itu dalam rangka ibadah, dalam rangka membuat pasangan kita bahagia, mengapa tidak? Kalaupun pasangan kita tidak juga berubah dari karakter semula setelah bertahun-tahun, mengapa kita tak melihat hal itu sebagai keunikan yang makin “mengayakan” kita?

Di atas itu semua, sebenarnya semua perbedaan bisa saja seolah lebur saat suami istri menyadari persamaan utama mereka, yaitu keinginan menjadi abdi illahi sejati! Cinta karena dan untukNya, menjadikan sifat dan karakter yang paling berbeda sekalipun, bersimpuh atas namaNya. Perbedaan justru menjadi masalah serius ketika masing-masing pribadi memang tidak menempatkan ridho Allah sebagai tujuan utama dalam biduk rumah tangga mereka.

Di luar, hujan mulai reda. Sayup-sayup saya dengar suara Faiz di telpon. Rupanya ia sedang bercakap dengan salah satu temannya.

“Apa? Ayah bundamu bertengkar? Sudah, jangan menangis. Cinta yang besar kepada Allah, akan selalu menyatukan mereka!”

Saya nyengir. Sejak kapan anak itu menjadi konsultan ya?

———————————————————-
akhir dari tulisan Mbak Helvy
———————————————————-

Sekarang bagian saya menulis😀
Sebenarnya saya mencari artikel tentang bagaimana mengatasi perbedaan, bukan dalam rumah tangga seperti dalam artikel di atas sih, tapi dalam perkara persahabatan dsb… kadang saya berpikir, lebih baik punya sahabat yang sama sifatnya sama kita atau yang bertolak belakang ya? sampai sekarang gak ketemu jawabannya tuh… yang jelas yang saya pahami sekarang (dan juga dari artikel di atas) bahwa perbedaan bukanlah parameter. Kalo kata Ustadz Anis Matta yang penting ada penerimaan yang utuh meliputi kelebihannya dan juga termasuk kekurangannya… artinya butuh pemahaman untuk saling menyesuaikan. Ambil yang baik, dan jangan ikuti yang buruk..

*makasih teman2 atas semua dukungannya dalam menjalani hari sebagai makhluk Allah…*

wallahu a’lam bish shawab


Actions

Information

4 responses

2 06 2009
viranda

Hmm, memang bagus ya, artikel ini, saya juga pernah baca di blognya mbak Helvy (walau sama kayak Kerlip, ga kenal, hehe…)

sama kayak kerlip, pernah bingung juga, mana yang lebih cocok? yang sama atau yang beda? atau campuran? akhirnya kembali lagi pada kata “kedewasaan” dan kemampuan menerima orang lain apa adanya serta memperbaiki diri bersama… yang pasti, yang paling Ok adalah yang satu visi, contohnya, sevisi dalam Islam… itu yang akan membentuk ukhuwah… (^^,)

2 06 2009
kerlip

sip lah… setuju kk… SEVISI dalam Islam… !!
iii… sayang deh sm k vika… ^^ (upz…)
anw, pernah denger quotes ini
sahabat bukan orang yg meninggalkan saat kita gak sesuai sama keinginannya; karena ia menerima apa adanya…
sahabat bukan orang yg berlalu saat kita salah; karena ia mengingatkan…

3 06 2009
ANONYM

Assalamu’alaykum…

Halo *,salam kenal🙂

Hmm…aku juga penggemar mbak Helvy Tiana Rosa..
Aku pengagum tulisan2 dan buku2nya. Cerita pendek yang beliau tulis seringkali unik dan meninggalkan ‘bekas’ di hati..
Walaupun kadang ada yang terasa kurang setuju dengan alur cerita yang dibawakan namun sebagian besar goresan penanya berbobot dan bermutu.

Ngomong2 soal tulisan itu,aku setuju ma pendapat * tentang bagaimana kita menyikapi perbedaan. Kadang kala kita butuh pendapat dari seseorang yang berbeda jauh sifat dan karakternya dengan kita. Ambil saja sahabat2 Rasulullah SAW. Mereka walaupun mempunyai karakter yang berbeda-beda, misalnya Umar yang keras dan tegas, Abu Bakar yang lemah lembut dan dermawan, Usman yang selalu terorganisir dan cakap, Ali yang cerdas dan taktis, Salman yang pandai strategi perang dan pandaim Abu Ja’far Al Ghifary yang teguh pendirian dan berani, dan banyak lagi sahabat Rasulullah SAW yang mempunyai karakter unik.

” Sesungguhnya tali ukhuwah yang paling erat adalah hubungan persaudaraan karena Allah.”

Bayangkan jika Rasulullah SAW memilih-milih dalam mencari sahabat! Aku yakin tidak akan terbentuk suatu harmoni dan dinamika yang dapat mengarahkan Islam menuju perdamaian dan kekayaan ilmu fiqih maupun muamalah yang utuh.

Namun, dalam memilih teman pun kita tidak boleh asal karena Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya kurang lebih “Barangsiapa yang berteman dengan pandai besi maka akan terkena bara apinya dan barangsiapa yang berteman dengan tukang parfum maka akan terkena wangi parfumnya.

Berjamaahlah selama jamaah itu membawa kita menuju kekuatan ruhiyah yang selalu membakar semangat kita dalam berdakwah dan beribadah!

Bertemanlah selama kita masuk dalam komunitas itu dapat membawa lebih banyak manfaat daripada mudharatnya!

Wallahua’lam bishshowwab…

9 06 2009
kerlip

wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh,
halo juga AN, salam kenal juga…
hm, tulisan ANONYM bagus deh, gmana kalo bikin blog sendiri aja AN?

makasih buat sharing ilmunya disini sehingga artikel di blog ini lebih lengkap…

bukannya gak boleh berteman sama yang gak sevisi (baca: Islam) ya, tapi…untuk sahabat (yang secara bahasa tingkatannya lebih kuat) rasanya akan lebih baik untuk memilih yang sevisi

Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“(Agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya maka perhatikanlah siapa temanmu.” (As Shahihah 927)

intinya, di atas segala perbedaan yang besifat manusiawi, ada satu hal penting yang dapat mengatasinya: persamaan dalam (setidaknya) keinginan untuk taat kepada Rabbnya.

Wallahua’lam bish shawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: