Hari Pendidikan Nasional: Membangun Curiosity Kita

3 05 2009

Bangsa Indonesia memperingati tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), sebagai penghargaan atas jasa Ki Hajar Dewantara, pahlawan pendidikan kita. Saya tidak tahu sejak kapan tepatnya tanggal ini diperingati sebagai Hardiknas. Tapi, berdasarkan situs ini, SK Presiden yang menetapkan Ki Hajar Dewantara sebagai pahlawan dikeluarkan sejak tahun 1959. Jika sejak tahun yang sama 2 Mei diperingati sebagai Hardiknas, maka sudah 50 tahun kita memiliki hari peringatan PENDIDIKAN NASIONAL. Selama 50 tahun tersebut, bagaimanakah wajah pendidikan di Indonesia?

Berdasarkan situs ini, beberapa universitas di Indonesia menduduki peringkat yang cukup membanggakan di dunia. Walaupun tidak sampai menembus angka 50 atau 100 besar, tapi untuk ukuran negara yang seolah-olah tidak ada sisi baiknya ini sudah cukup menjadi prestasi yang membanggakan. Tapi, tentu saja, harusnya ini menjadi cambuk bagi bangsa Indonesia untuk belajar lebih, lebih dan lebih.

Pada dasarnya, belajar itu proses mencari tahu. Ibarat ilmu itu air, maka rasa dahaga akan ilmu akan membuat kita mencarinya. Dan tentu saja semua itu butuh curiosity: rasa ingin tahu. Sebuah dorama berjudul Edison No Haha, mengajarkan kita akan hal itu: bahwa dalam kehidupan ini penuh misteri, dan dari sanalah harusnya kita belajar. Dorama ini berkisah tentang seorang anak berusia 6 tahun yang diduga jenius. Betapa besar rasa ingin tahunya. Selalu bertanya mengapa dan mengapa (dalam bahasa Jepang tentunya :)). Ia bertanya Mengapa 1+1 =2? ia bertanya: Jika semua orang di dunia ini punya hak yang sama, mengapa harus ada orang kaya dan orang miskin? Ia bertanya mengapa burung bisa terbang dan manusia tidak? Dan ia terus bertanya… Ah, rasanya saya malu. Entah sudah sejak berapa lama (atau bahkan tidak pernah), saya tak menanyakannya. (Jawaban gampang, karena saya tidak diduga jenius.. hehe).

Bagi orang-orang yang mengamati, maka ia akan terus bertanya: mengapa dan mengapa. Tak hanya bertanya, maka ia akan berusaha sebisa mungkin untuk mencari jawabannya. Dan itulah proses belajar itu sendiri. Belajar yang berhasil (kebanyakan) berasal dari kebutuhan kita untuk tahu.

Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS Yunus: 101)

Mari, gali rasa ingin tahu kita untuk dunia pendidikan kita yang lebih baik🙂

*detik-detik terakhir 2 Mei*


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: