Yang Hilang tlah Kembali . . .

26 04 2009

Aku tahu sejak hari itu bahwa semua tak kan sama
Sebuah cipika cipiki yang kau berikan pagi itu
beserta permintaan maafmu harusnya mampu menutup kesalahpahaman di antara kita
Tapi entahlah, yang aku tahu, bersama dengan kedua hal itu, tembok-tembok tinggi telah siap memisahkan kita
Kekakuan itu tak tampak, tapi sungguh nyata ada

Ah, rasanya tak adil bila 15 rupiah yang kukeluarkan lewat sms itu mampu meretakkan kita
Mungkin aku yang bodoh, melupakan golden rule dunia curhat
bahwa orang curhat itu hanya butuh didengar dan dukungan, bukan nasehat
Ah, harusnya aku menelponmu saja agar kau bisa bercerita
agar aku bisa mendengar dan mendukung… bukan menasehati…
Tapi semua terlambat, kata-katamu mungkin benar
bahwa aku tak benar-benar memahamimu
Kata-katamu sore itu mengingatkan sekaligus menamparku…
Merasa malu kepada diri ini bahwa satu tahun yang telah berlalu tak cukup bagiku untuk memahamimu
Jangankan paham, jangan-jangan mengenal pun tidak
Andai waktu mampu diputar balik, aku tahu harusnya aku menelponmu sore itu

Tapi waktu terus bergulir maju, tanpa bisa diputar balik
Dan tembok-tembok itu semakin kuat mengukuhkan bangunannya
Membatasi aku disini dan kau disana
Ah, dalam diam aku hanya mampu menangisi semua kebodohanku

Waktu terus bergulir maju, ketika kau menghadapi masalah itu
Mereka bilang kau menangis sepanjang waktu
Mereka bilang kau layu
Aku hanya mendengar dari mereka, tanpa pernah tahu keadaan sebenarnya
kau diam tak bercerita, aku diam tak bertanya
pertemuan kita di hari-hari itu hanyalah pertemuan singkat tak tersengaja
hanya berisi senyum-senyum kilas

kawan, aku ingin disana di sisimu
bersama menghadapi beban-beban itu
melawan apa yang membuatmu menangis
kawan, aku tak sanggup lagi
membiarkanmu semakin terpuruk
padahal biasanya kita saling mendukung
kawan, ijinkan aku bertanya ada apa denganmu?

Hingga sampai pada hari ini..
Dengar, dengar semua…
Kini engkau tlah bicara
membuka masalahmu, menangis tersedu
Alhamdulillah, puji syukur kupanjatkan, bahwa kini aku kembali “memilikimu”
kawan, katakan.. ceritakan..
aku ingin mendengar.. aku ingin memberi dukungan..
meskipun seperti biasa, aku hanya mampu berkelakar
tapi semoga itu cukup meringankan
kau tersenyum, lalu tertawa
aku pun tersenyum, lalu tertawa
semua telah kembali

aku tak tahu harus bersyukur atau bersedih atas masalahmu
karenanya kita kembali
karenanya tembok-tembok pemisah telah hancur
tapi karenanya pula engkau menangis

ah, kawan…
yang aku tahu sore ini sangat indah…
biarkan mereka tersenyum melihat kita
melihat tingkah kita
melihat kau yang tiba-tiba memeluk
dan tak lupa memberi cipika cipiki
kali ini aku tahu, ini cipika-cipiki yang sebenarnya
tidak seperti pagi itu
memang tanpa maaf, toh memang aku tak pernah bilang kau bersalah
atas “perpisahan” kita
lagipula, apalah arti kata-kata bila hati tak bicara

kawan, kali ini aku tahu, aku tak ingin melepasmu (lagi)…

*thx my sista… lg pengen nulis tp gk ada ide.. anw, percaya gk percaya, nilai kita sama2 gk excellent kalo lagi jauhan… :P*


Actions

Information

4 responses

27 04 2009
hidayatus

wah…subhanallah kerlip bisa membuat karya sastra dalam bentuk gini juga, hehehe

29 04 2009
kerlip

berlebihan itu, hehe juga..

1 06 2009
HiLda

eh,, iki tentang aku dudu?
(GR bgt c aku iki,,,, hehehe…)

1 06 2009
kerlip

lho?? emang kita pernah “berantem” sampe sgitunya po mbak yu?
lagipula dah lama kita gk ketemu, peluk2an or cipika-cipikian..😉 miss u…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: