Kartini dan Perempuan Indonesia

21 04 2009

Ada yang ingat bahwa hari ini tanggal 21 April? Hari apa itu? Coba retrieve memori Anda. Sudah ingat? Yap, tepat sekali, hari ini diperingati sebagai hari Kartini sebagai penghormatan atas jasa beliau dalam hal emansipasi wanita.

Sebenarnya saya juga gak terlalu ngeh alias sadar kalo hari ini hari Kartini. Beda dengan jaman saya kecil (SD) dulu ketika banyak orang di sekitar saya merayakan hari Kartini. Dimana-mana orang pakai baju daerah. Saya sih ikut-ikutan aja, menuruti peraturan sekolah kala itu. Sekarang suasananya hampir tidak terasa bagi saya.

Bagi saya sendiri, hari ini tidak banyak yang ingin dipikirkan selain segera melewati ujian akhir Modul Imunologi dan Infeksi. Selepas ujian, beban berton-ton terasa lebih ringan (ceile..lebay). Saya pun kemudian ikut kuliah empati yang nampak sepi (biasalah kuliah habis ujian mah terancam dikit yang datang). Kuliah empati yang disajikan mengupas tuntas aspek empati pada kasus HIV/AIDS. Seperti biasanya, kami diberi kasus untuk di-role-play-kan. Kemudian, narasumber akan mengomentari dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Kebetulan narasumber kami merupakan pakar di bidangnya yaitu seorang profesor dari bagian penyakit dalam dan seorang dokter spesialis kesehatan jiwa. Mungkin Anda bertanya-tanya apa hubungannya ya antara HIV/AIDS dan hari Kartini? Hum, sabar-sabar.. Jadi begini ceritanya.

Setelah kasus diperankan, tibalah saatnya sang profesor memberikan komentarnya. Komentar yang unik dan menggelitik. Kata beliau (kata-katanya tidak tepat sama gini sih), “Perlu Anda ketahui bahwa semua istri yang terkena HIV/AIDS tidak ada yang meminta cerai dari suaminya. Padahal jelas terbukti bahwa mereka tertular dari suaminya. Hal ini cenderung berkebalikan dari laki-laki.” (buat info aja, HIV/AIDS yang tertular dari suami ke istri atau sebaliknya itu nularnya lewat kontak beberapa jenis cairan tubuh termasuk semen atau cairan vagina. pasangan bisa dapat HIV/AIDS dari pemakaian jarum suntik bergantian atau berganti-ganti pasangan. kemudian mereka menularkan ke suami atau istrinya).
Perkataan prof ditutup dengan: “Ya, inilah bukti perempuan Indonesia itu seperti apa: cenderung menerima dan setia (ceile). Selamat hari Kartini untuk perempuan Indonesia.”

Tanpa perlu diaba-aba, seisi kelas pun tertawa salut mendengar komentar beliau. Mungkin ada benarnya juga apa yang beliau katakan. Semoga ini bukan pertanda bahwa perempuan Indonesia itu tidak mandiri dan cenderung lemah. Emansipasi nih…🙂 (asal tetap pada koridornya).

*no offense*


Actions

Information

5 responses

22 04 2009
hidayatus

Subhanallah…Selamat hari Kartini juga untuk teh Kerlip Melati

25 04 2009
kerlip

makasih tus… (telat jawab ya)

25 04 2009
hidayatus

hehehe

26 04 2009
wzn

setuju sekali dengan mbak kerlip..
wanita itu pada dasarnya setia. justru yang membuat kesetiaan seorang wanita itu goyah adalah ulah para lelakinya.
kayaknya para lelaki harus sedikit memahami lirik lagunya beyonce – if i were a boy dulu ya.. hehe.. :p
semangat kerlip!

26 04 2009
kerlip

itu yg bilang dosenku yang laki-laki lho mas, bukan kataku.. (walopun aku sepakat) wkwkwk, kok “if i were a boy” dibawa2..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: