Cahaya Bathin

5 03 2009

Suatu siang di tengah panasnya kota Jakarta, kami berada di dalam mobil di depan sebuah bangunan di sudut Jakarta Timur. Bangunan berlantai dua itu tampak bersih. Tidak terlalu rindang, tapi cukup hijau dengan pepohonan di depannya. Dari mobil, kami dapat melihat ruang depannya (jika boleh disebut ruang tamu) yang pintunya terbuat dari kaca. Tampak beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang mengobrol sembari menonton siaran TV.

Setelah rombongan teman kami dalam mobil lain tiba, kami pun turun, memasuki pintu gerbang bangunan dengan halaman yang cukup luas tersebut. Segera kami mendatangi meja di ruang depan yang dari tadi kami amati. Bapak-bapak disana menyambut kami dengan ramah sekali. Setelah mengurus berbagai keperluan administrasi dan perijinan, kami pun diantar ke ruang utama. Di sana kami mendapat penjelasan, akan banyak hal yang mungkin kalian perlu tahu.😀

Ya, hari itu saya dan beberapa teman saya berkesempatan mengunjungi Panti Bina Netra Cahaya Bathin. Dari namanya tentu kalian bisa menebak tempat seperti apakah yang kami kunjungi itu.

PBN Cahaya Bathin adalah Panti Sosial yang dimili pemerintah. Yayasan ini boleh dikatakan bertugas merehabilitasi saudara-saudara kita, para penyandang cacat mata. Kata rehabilitasi saya pilih karena menurut saya, kebanyakan aktivitas PBN bertujuan mengoptimalkan fungsi saudara-saudara kita tersebut. Aktivitas disana cukup menarik lho..

PBN ini dihuni kira-kira 50 orang penyandang cacat mata baik blindness maupun low vision. Orang-orang tersebut dibekali dengan banyak hal agar mereka mampu mandiri. Secara garis besar bekal tersebut terdapat dalam dua bentuk yaitu pendidikan umum dan ketrampilan. Pendidikan umum yang diselenggarakan memang hanya dalam tingkat SD 6 tahun. Akan tetapi, peserta didiknya memang tidak seperti kebanyakan SD karena usianya yang bervariasi antara 12-30 tahun. Nah, untung orang-orang yang sudah terlanjur tua, masa SD tidak harus ditempuh dalam 6 tahun. Cukup 3 tahun atau 4 tahun, tergantung kemampuan. Bahasa kerennya.. akselerasi kali ya. Misal, jika orang itu baru masuk PBN di usia 18 tahun, maka ia boleh menyelesaikan SDnya dalam 3 atau 4 tahun saja. Selain itu, perbedaan SD PBN ini dengan SD lain terletak pada materi yang diajarkan. Mereka tidak lagi diajari “ini budi”, “ini ina” dan sejenisnya.😀 Pengajaran lebih ditekankan pada pendidikan umum seperti pengetahuan mengenai Kelurahan, Kabupaten, dsb. Tujuannya, agar ketika mereka berada dalam masyarakat nantinya, mereka tidak cupu alias nggak tau apa-apa dan mudah dibodohi orang lain.

Nah, bagian kedua adalah pembekalan ketrampilan. Misalnya, tentang pengajaran pemijatan, shiatsu, ketrampilan alat musik dsb. Menurut bapak-bapak petugas disana, PBN juga bertugas untuk menyalurkan orang-orang yang sudah lulus dari pendidikan ketrampilan. Misalnya, ketika ada sebuah restoran yang membutuhkan pemain piano untuk manggung disana, maka PBN akan menyalurkan lulusannya yang jago main piano. Akan tetapi, para pemain musik ini tidak digabung dalam satu grup. Kenapa? Karena kalo digabung jadi satu grup tentu akan menyusahkan dan membutuhkan orang lain. Kebayang kan kalo satu grup nggak bisa lihat semua? Harus dituntun satu-satu gitoe.. Nah, kalo cuma satu yang gak bisa lihat kan bisa digandeng sama temannya yang bisa lihat. Dari sini saya menyadari..ya Allah…pengurus PBN berpikiran panjang ya..gak kaya saya yang sedikit gampang gegabah..hal seperti itu pun mereka pikirkan gitu loh..

Nah, ada lagi yang unik dari ketrampilan orang-orang PBN ini yaitu tentang pijat dan shiatsu. menurut info petugas di sana, penghasilan para pemijat ini bisa sampai 1jt lho tiap bulannya. Soalnya, mereka ini bukan tukang urut kampungan yang suka ngasal. Mereka juga diajari anatomi (struktur organ tubuh), fisiologi (bagaimana tubuh berfungsi), dan patologi (penyakit dan kelainan tubuh). Saya lihat sendiri kok..ada model kerangka di ruang kelas mereka. Terus pas teman saya coba di shiatsu, si mas-mas yang mijat lapor ke gurunya : “tadi saya pijat di angulus sakralis”. Wow..mantap!! Kami aja agak lemot mikir…angulus sakralis itu yang mana ya.. hahaha..

Selain itu, orang-orang disana mendapat fasilitas papan, sandang dan pangan. GRATIS!! Biaya ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah kita. Wow..Hehe..

Nah, buat teman-teman yang mungkin punya kenalan atau tetangga yang kebetulan memiliki gangguan penglihatan sampai gak bisa atau sulit untuk melihat, silakan bisa menghubungi PBN Cahaya Bathin di daerah Cawang, belakang Rumah Sakit Budi Asih. Saya diminta mempromosikan soalnya sama bapak petugasnya. Kata petugas-petugas tersebut, biarpun gratis menjaring masa itu tidak mudah. Justru gara-gara gratis jadi dikiranya kalo masuk kesana akan disuruh jadi pengamen atau peminta-minta gitu di perempatan. Padahal kenyataannya sama sekali bukan demikian.

Sekian laporan dari lokasi kejadian. Semoga bermanfaat, jangan lupa berbagi kepada saudara-saudara kita tersebut dan tak lupa pula untuk bersyukur. Kalo udah tau ada orang jalan pakai tongkat, ya minggir dulu kasih jalan. Jangan gak mau ngalah atau malah nyerobot2.. (Rasanya) mereka tidak pernah meminta untuk menjadi tuna netra bukan?


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: